Ketika keabadian ada di dalam genggamanmu, kau telah menukarnya dengan kemilau keindahan dari waktu itu sendiri.
Bulir-bulir pasir di dalam gelas berlekuk itu, apalah artinya bila diam. Ingatkah kau akan masa mudamu, ketika aliran pasir yang bergerak memukaumu dengan kilapan sejenaknya? Bahkan air yang membeku sekalipun hanya indah di bawah matahari yang bergerak. Gundukan pasir dapat indah dengan sentuhan waktu yang membawa angin.
Tapi di sini lah dia terdampar, di hamparan keabadian yang mati. Kalau manusia bilang kesetiaan memiliki batasnya, tamatlah tujuan hidupnya. Namanya adalah penantian. Kesabaran mengalir di nadi-nadinya.
Pada suatu ketika ia mempunyai teman. Seorang pemuda cemerlang dengan modal keingintahuan. Ah, rasa penasaran. Harta yang seringkali lupa diberi harga, entah karena nilainya yang tak terukur atau karena kealpaan semata. Teman. Kata yang terasa asing baginya. Tapi gelar apalagi yang bisa ia berikan bagi insan yang tak pernah jenuh menggali petunjuk, sekecil apapun itu, hanya untuk menemukan dirinya? Untuk membuktikan keberadaannya dan menunjukkannya pada dunia. Perlukah ia bertindak? Jemari mengayun selagi ia menimang-nimang pikirannya.
...
And there you go, my tiny fruit of boredom dear. Oh hey I still remember my native language~ :D
Kuis 1: Bahasa
5 years ago
0 comments:
Post a Comment